10 September 2009

Soedijarto, Tokoh Pendidikan Indonesia

Nama beliau cukup singkat, Soedijarto. Guru besar UNJ ini telah banyak berkiprah di dunia pendidikan Indonesia. Sebagian besar aktivitas kehidupannya didedikasikan untuk kemajuan pendidikan. Pelbagai pemikiran, gagasan dan harapannya seputar pendidikan dapat kita temukan dalam berbagai buku, makalah, karya tulis, baik di media massa maupun sepak terjangnya dalam mengkritisi berbagai persoalan pendidikan melalui organisasi ISPI.

Saat ini beliau menjadi “nakhoda” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) dan sebentar lagi akan lengser melalui Munas ISPI Ke-VI tanggal 23-25 Oktober 2009 di Bandung karena telah dua kali menjabat. Dibawah kepemimpinan beliau, ISPI berkembang dan aktif dalam memajukan dunia pendidikan Indonesia. Berbagai rekomendasi dan masukan kepada pemerintah disampaikan melalui wadah ISPI.
Salah satu karya beliau yang fenomenal dan memberi inspirasi bagi insan pendidikan Indonesia yaitu bukunya yang berjudul Landasan dan Arah Pendidikan Nasional di Kita .

Pertama kali bertemu dengan beliau saat seminar nasional ISPI Daerah Jawa Tengah di Hotel Kedaton Solo tahun 2008. Sehari sebelumnya saya janjian dengan beliau untuk bertemu. Dan saat jeda sehabis pembukaan seminar, beliau mengirim sms, ” Deni di mana sekarang.” Kemudian saya jawab bahwa saya telah berada di lokasi. Akhirnya kami bertemu dan asyik mengobrol seputar pendidikan dan perkembangan organisasi ISPI ke depan.

Saya mengagumi beliau karena sosoknya yang low profil dan bersahaja di usianya ke 74 tahun. Rupanya beliau masih tetap jernih, runut, dan penuh semangat dalam menyampaikan ide gagasan pendidikan. Sebagian lontarannya kadang membuat saya tercengang karena cukup berani mengkritisi kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang menurutnya tidak tepat.

“Kondisi pendidikan kita semakin menyedihkan. Karena itu, ketika saya menjadi anggota MPR-RI saya melontarkan gagasan agar pendidikan dipatok 20 persen dari APBN dan itu diterima,” kata Guru Besar Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) ini dalam suatu perbincangan.

Setelah acara jeda mau berakhir, kami sempat berphoto bersama dengan beliau sebagai kenang-kenangan. Setelah itu beliau langsung menuju podium acara untuk menjadi pembicara bersama dengan Dirjen PMPTK Depdiknas saat itu. Sampai sekarang saya masih terus berkomunikasi dengan beliau melalui sms dan sebulan yang lalu beliau mengabarkan sedang terbaring sakit dan harus menjalani operasi karena penyakit prostat.

Barusan beliau memberitahu via sms bahwa perlahan sudah mulai sembuh penyakitnya dan kembali siap untuk meneruskan perjuangan memajukan dunia pendidikan Indonesia yang sampai saat ini masih carut-marut. Terima kasih Pak Dijarto, atas jalinan silaturahminya. Saya do’akan semoga bapak sembuh kembali seperti sedia kala.

RIWAYAT LENGKAP
Riwayat Pendidikan
S1 Psikologi Pendidikan FKIP Univ. Padjajaran Bandung 1962
S2 Pendidikan Politik University of California, Santa Barbara 1971
S3 Pengembangan Kurikulum IKIP Bandung 1981

Riwayat Pekerjaan
1. Kedinasan
1. Ketua Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS) Depdiknas, 2003 – 2006
2. Anggota MPR-RI dengan tugas sebagai anggota PAH-I Badan Pekerja MPR RI, 1999 – 2004
3. Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda dan Olahraga, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991 – 1999
4. Anggota Tim Ahli Pengembangan Pendidikan Guru Ditjen DIKTI, 1990
5. Sekretaris Konsorsium Ilmu Pendidikan, 1989 – 1993
6. Guru Besar Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, 1989
7. Pembantu Rektor I IKIP Jakarta, 1989
8. Atase Pendidikan dan Kebudayaan pada KBRI Bonn, 1983 – 1987
9. Konsultan Evaluasi Diklat pada BKKBN, 1982 – 1983
10. Dosen Luar Biasa pada Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta, 1982 – 1983
11. Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, 1981 – 1983
12. Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan BP3K Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1975 – 1981
13. Kepala Satuan Tugas Pengembangan Pendidikan BPP Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1973 – 1974
14. Sekretaris Satuan Tugas Pengembangan Pendidikan BPP Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1972 – 1973
15. Peneliti dalam Bidang Kurikulum pada BPP Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dengan tugas memimpin Tim Sistem Analisis untuk mengidentifikasi tujuan-tujuan Pendidikan, 1971 – 1972
16. Dosen Luar Biasa dalam Pengantar Sosiologi pada Fakultas Ekonomi, dan Filsafat Pancasila pada Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, 1967 – 1969. (Catatan : dari 1969 – 1971 mendapat tugas belajar dengan beasiswa the Ford Foundation, University of California, Santa Barbara, USA)
17. Sekretaris Badan Koordinasi Lembaga-Lembaga Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 1967 – 1969
18. Kepala Biro Urusan IKIP Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, 1964 – 1967
19. Dosen Psikologi Anak dan Psikologi Perkembangan FKIP Universitas Pajajaran, Bandung, 1962 – 1964

2. Pengalaman Kerja Luar Kedinasan
1. Penasehat PGRI, 2003 sampai sekarang
2. Ketua Pelaksana Panitia Peringatan 100 Tahun Bung Karno, 2001
3. Ketua “Center for Information and National Policy Studies (CINAPS)”, 1999
4. Wakil Ketua Yayasan Indonesia-Jerman, 1999
5. Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), 1998 – 2003, 2003 – 2008
6. Anggota “Education Commision for Asia-Pacific and Oceania”, mewakili Indonesia, 1996
7. Ketua Palang Merah Indonesia, 1994 – 1999, 1999 – 2004
8. Anggota Dewan Riset Nasional (DRN), Wakil Ketua I Sub Kelompok Pendidikan, 1993 – 1998, 1998 – 2003
9. Ketua Harian Dewan Pembina ISPI, 1993 – 1998
10. Ketua GUPPI, 1993 – 1998
11. Wakil Ketua Kawrnas Gerakan PRAMUKA, 1993 – 1998
12. Ketua I Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia, 1989 – 1994
13. Anggota dan Ketua “Advisory Committee on Regional Cooperation in Education in Asia and Oceania” sebagai Ketua, 1989 – 1991
14. Wakil Pemimpin Umum Media Komunikasi Pendidikan Menengah Umum, 1978 – 1981
15. Anggota Panitia Pengarah Pembinaan Kurikulum SLU, 1977 – 1981
16. Wakil Ketua Komisi Kurikulum Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977 – 1980
17. Membantu Lemdikskogab dalam menyusun kerangka Kurikulum SESKOABRI, 1972 – 1973
18. Sekretaris Panitia Ahli Pendirian IKIP Departemen PTIP, 1963 – 1964
19. Anggota Majelis Pendidikan Nasional, 1965
20. Anggota Pengurus Besar PGRI Pimpinan Subyadinata, 1964 – 1967
21. Ketua Pendidik Marhaenis, 1964 – 1967
22. Wakil Sekjen DPP ISRI, 1967 – 1969
23. Pengurus Cabang GMNI Bandung, 1960 – 1962

3. Pengalaman Kerja Internasional
1. Mengadakan kunjungan kerja ke Kamboja bersama anggota Badan Pekerja MPR – RI, 2004
2. Memimpin Delegasi BP MPR RI dalam kunjungan Studi Banding ke Korea Selatan dan Cina, 2001
3. Mengadakan kunjungan Studi Banding bersama anggota BP MPR RI ke Vietnam dan Kamboja, 2002
4. Memimpin Delegasi Badan Pekerja MPR RI dalam kunjungan Studi Banding ke Yunani dan Jerman, Juni 2000
5. Memimpin Delegasi Badan Pekerja MPR RI dalam kunjungan Studi Banding ke Mesir, Yordania, dan Arab Saudi, Desember 2001
6. Menjadi Pembicara Kunci (Keynote Speaker) pada “The 23th ASAHIL General Conference and Seminar on Role of Universities and Community Development”, University Brunei Darussalam, 12 November 1998
7. Menjadi Pembicara/Penyaji Makalah “Community Participation and Empowerment : A Key to Achieving Education for All in the Perspective of Sustainable Development” dalam International Conference on Education Innovation for Sustainable Development, Bangkok, Desember 1997
8. Menjadi anggota Delegasi RI dalam UNESCO General Conference, Paris, Oktober 1997
9. Menjadi Wakil Ketua Delegasi RI dalam pertemuan Menteri Pendidikan E-9 dan penyaji makalah dalam Expert Meeting E-9, di Islamabad, Juli 1997
10. Ketua Delegasi RI dalam Konferensi “International Conference on Adult Education V”, di Hamburg, Republik Federal Jerman, 1997
11. Wakil Ketua Delegasi RI dalam konferensi “International Conference on Education”, di Jenewa, 1996
12. Ketua Delegasi RI dalam “Mid-Decade Meeting of the International Consultative Forum on Education For All”, di Amman Yordania, 1996
13. Mewakili Indonesia dalam “Educational Commision on Asia-Pacific Oceania”, Bangkok, 1996
14. Anggota Delegasi RI dalam KTT on Social Development, Copenhagen, 1995
15. Memimpin Sidang Expert dan “Senior Official Meeting” dalam E-9 Ministerial Meeting, Bali, 1995
16. Anggota Delegasi RI dalam “UNESCO General Conference”, Paris, 1995
17. Wakil Ketua Delegasi RI dalam “International Conference on Education”, Jenewa, 1994
18. Anggota Delegasi RI dalam E-9 Ministerial Meeting dan KTT E-9, New Delhi, 1993
19. Mewakili RI dalam Pertemuan Menteri E-9, Paris, 1993
20. Mengadakan Kunjungan Studi Perbandingan Sistem Pendidikan di Iran (1971), Jepang (1974), India dan Sri Langka (1975), Australia (1979), Inggris (1980), Thailand, Singapore (1993), China (1994) disamping Amerika Serikat dan Republik Federal Jerman yang dilakukan selama tinggal di kedua negara tersebut, Amerika Serikat (1969 – 1971), Republik Federal Jerman (1983 – 1987)
21. Mengikuti berbagai Seminar dan Lokakarya di Indonesia dalam kedudukannya sebagai peserta dan pembawa makalah dan berbagai seminar yang berlangsung di Republik Federal Jerman, baik yang dilaksanakan oleh PPI maupun oleh Lembaga-lembaga Ilmiah dan Yayasan di Jerman
22. Memimpin Studi Perbandingan Manajemen Pendidikan Pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Thailand dan Singapura, Februari – Maret 1992
23. Memimpin Delegasi Indonesia dalam “World Assembly of International Council on Education for Teaching”, UNESCO, Paris, Juli 1992
24. Mengikuti dan menyajikan makalah dalam Seminar “Policies and Approaches in Achieving Education for All Objectives”, Manila, INNOTECH Center, Philipines, Juli 1992
25. Mengikuti Seminar on “Effective Educational Approaches to Urban Development”, INNOTECH Center, Manila, September 1988
26. Mewakili KBRI Bonn dalam “International Energy Forum, Hamburg, Jerman Barat, 1987
27. The Sixth Europian Collegium on Indonesia and Malay Studies, diselenggarakan oleh Department of South East Asian Studies Passau University, Passau, Jerman Barat, 1987
28. Mengikuti Seminar on “Colonialsm and Neo-Colonialism”, diselenggarakan oleh The Institute for International Scientific Cooperation, Tubingan, Jerman Barat, 1985
29. Mengikuti Seminar on “Formal and Non-Formal education”, diselenggarakan oleh UNESCO, Pyongyang, 1980
30. Mengikuti Seminar on “Curriculum Design and Curriculum Development”, diselenggarakan oleh ACEID dan Pacific Circles di Canberra, Australia 1979
31. Mengikuti Seminar on “Education Research and Educational Reform”, diselenggarakan bersama oleh UNESCO dan National Institute of Educational Research, Japan di Tokyo 1979
32. Mengikuti Seminar on “Developing Instructional Materials for Primary and secondary Schools”, diselenggarakan oleh APEID di Udorn Thani, Thailand 1978
33. Mengikuti “Technical Working Group Meeting on Implementation of Educational Innovation”, diselenggarakan oleh APEID, Bangkok 1976
34. Mengikuti “Workshop on The Evaluation of SESAME Project”, diselenggarakan oleh RECSAM, Penang, 1977
35. Mengikuti dan mengajukan makalah dalam “Seminar on Teaching-Learning Strategies and Educational Planning”, diselenggarakan oleh IIEP, Paris, 1975
36. Mengikuti Seminar on “Relevant Education for Post-War Development”, diselenggarakan oleh INNOTECH Center, di Saigon, 1974
37. Research Workshop on Education di Tokyo, 1974 (selama tiga bulan)
38. Guest Researcher pada INNOTECH Center di Singapore, 1973 (selama tiga bulan)
Kita

Continue Reading...

11 July 2009

Mengisi Liburan Dengan Audiensi

“ Pak, liburan kemana aja, “ tanya Ardi Rizki Yanto, salah seorang siswa saya lewat facebook. Saya menjawabnya dengan enteng, ” Wah, Ar, akhir tahun semester ini bapak ndak liburan ke mana-mana,” Persoalannya bukan tidak ingin liburan namun rupanya situasi belum mengijinkan.

Ada beberapa agenda yang ternyata harus saya lakukan di musim libur tahun ini. Selain ikut menjadi Panitia Penerimaan Peserta Didik (PPDB) di sekolah, Agupena, salah satu organisasi di mana saat ini saya mencurahkan segala pikiran dan energi memiliki gawe yang cukup penting untuk eksistensi organisasi kini dan yang akan datang. Audiensi dengan Dinas Provinsi Jawa Tengah telah dilaksanakan dengan baik saat sebagian orang asyik menikmati liburan.

Dan, rencana mau liburan di akhir ternyata juga tidak terlaksana karena pada tanggal 24 Juni 2009 mendapat kiriman SMS (short message service) dari Ketua Umum Agupena Pusat untuk mengikuti Audiensi Agupena dengan Sesditjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependikan). Audiensi yang terkandung maksud melakukan silaturahmi itu sekaligus ingin menyampaikan informasi kegiatan Agupena selama ini kepada PMPTK. Seperti yang telah diketahui bahwa Agupena, muncul pertama kali digagas oleh orang nomor satu di PMPTK saat itu (baca: Dr. Fasli Jalal, Ph.D) tahun 2006. Sehingga ada semacam ikatan batin yang kuat antara Agupena dengan PMPTK.

Alhamdulillah, saya bersama Pak Sawali dapat memenuhi undangan Ketua Umum Agupena Pusat tersebut. Akhirnya, Kamis, 9 Juli 2009 pukul 07.45 saya telah berada di kantin Depdiknas menanti acara yang diagendakan pukul 10.00 itu. Sambil menunggu saya memesan teh hangat sambil membaca koran mencari berita siapa presiden terpilih. Sekira 20 menit kemudian datanglah Mr. Sawali menghampiri saya yang sebelumnya menanyakan via sms posisi saya di mana. Ngobrol ngaler-ngidul pun tak terhindarkan mulai membahas agenda audiensi, rencana program Lomba Blog Guru Nasional sampai sampai hiruk pikuk persoalan pendidikan di tanah air.

Setelah 30 menit berdiskusi itu, Pak Achjar (Ketua Umum Agupena) menyampaikan via ponsel bahwa rombongan dari Agupena Pusat telah berada di basement dan akan meluncur ke lantai 16 gedung D, di mana Sesditjen PMPTK berada. Akhirnya kami bertemu di ruang masuk lift dan bersama-sama naik lift sambil bercanda. Tiba di lantai 16 gedung D, ternyata rombongan dari Jatim telah menunggu dan jadilah pertemuan itu sebagai ajang silaturahmi. Selanjutnya kami dipersilakn masuk di ruang tunggu dan rupanya Ketua Agupena Jabar masih dalam perjalanan karena terjebak macet.

Setelah menunggu sekira 15 menit sambil mendengarkan arahan Ketua Umum Pusat, tepat pukul 09.00 s.d. 10.00 WIB kami bertemu dengan Sesditjen PMPTK, Bapak Ir. Giri Suryatmana, di ruang kerjanya. Oh, rupanya Pak Giri ini sosok yang ramah, tangkas dan kepenak untuk diskusi.

Ketua rombongan, Mr. Acjar Chalil menyampaikan bahwa Agupena sebagai organissai profesi dalam ikut memajukan pendidikan dan meningkatkan profesionalisme guru di bidang kepenulisan lebih banyak dengan aksi ketimbang sekedar orasi. Statement beliau ini ternyata mendapat tanggapan positip dari Sesditjen PMPTK tersebut.

“Kami dari PMPTK menyambut gembira keberadaan Agupena. Kami juga sudah memprogramkan berbagai pelatihan pemanfaatan ICT untuk kepentingan pembelajaran kepada para guru di seluruh tanah air. Kaitannya dengan dunia kepenulisan, memang sudah saatnya para guru memanfaatkan internet sebagai media untuk berekspresi. Agupena provinsi hendaknya bisa bekerja sama dengan LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) yang ada di daerah untuk melaksanakan program-programnya,” kata Pak beliau dengan lugas.

Merespon pernyataan Sesditjen, Ketua Umum Pusat mengemukakan bahwa Agupena jateng akan mengadakan program unggulan Tahun 2009 untuk mengenalkanguru pada dunia kepenulisan melalui blog/web. Selanjutnya, saya dan Pak Sawali diminta mempresentasikan rencana program itu. Berdasarkan proposal yang telah disusun, Lomba Blog Guru dan Temu Bloger Guru se-Indonesia Tahun 2009) diperuntukkan bagi seganap guru di seluruh tanah air untuk memacu kreatifitas dan unjuk kemampuan dalam pengelolaan blog selama ini yang notabene akan meningkatkan kemampuan menulis. Lomba ini dirangkai dengan Temu Bloger Guru Nasional dengan tujuan ikut memperingati Hari Guru Nasional 2009. Muaranya dapat meningkatkan profesionalisme guru akan pentingnya pemanfaatan blog sebagai media dan sumber belajar yang menarik dan menyenangkan.

Rupanya presentasi saya dan Pak Sawali disambut antusias oleh Pak Sesditjen dengan menyatakan, “ Sungguh, ini program yang bagus dan PMPTK sangat mendukung. Karena ke depan, para guru harus mengakrabi internet dan blog sebagai media pembelajaran sehingga paradigma guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, bahkan tak jarang bersikap seperti diktator (jual diktat, beli motor),” ungkapnya. Beliau mengharapkan Agupena dapat ikut mengubah pola pikir yang selama ini menghinggapi para guru bahwa ketika belajar gurulah yang berkuasa dan penentu. Menurut beliau harus dicipatakan suasana pemebalajarn yang memberdayakan siswa dengan seluruh potensinya. Masih menurut beliau, setiap siswa itu unik sehingga perlu difasilitasi agar potensinya dapat berkembang secara maksimal.

Diskusi dan perbincangan rupanya harus segera diakhiri karena Pak Giri sudah ada agenda lain yang menantinya. Yang menarik sampai menjelang berakhirnya audiensi, Ketua Agupena Jabar masih belu m muncul dan baru kelihatan batang hidungnya ketika kami dan Pak Giri berphoto bersama.

Kejadian menarik berikutnya ketika selesau audiensi dan kami melanjutkan konsolidasi membahas organissai Agupena, tiba-tiba Bang Achjar berbicara, “Bolehkah Ketua Umum Agupena Pusat memberikan instruksi kepada Agupena Provinsi?” tanyanya. Kami menjawab serempat boleh-boleh saja, termasuk saya dengan enteng.
“Baik! Kami menginstruksikan, untuk pelaksanaan Rakernas 2009, Agupena Jawa Tengah yang menjadi panitia dan tuan rumah!” lanjut lelaki paruh baya itu sambil menyerahkan berbagai draf kepada saya. Sejenak saya tertegun, kok kenapa harus Jateng, tidak DKI, Jabar, Jatim, DIY atau yang lainnya. Namun, karena saya harus loyal kepada pimpinan organisasi maka saya katakan, “ Siap kerjakan, Lajutkan” dan hadirin pun tertawa dengan ciri khasnya masing-masning.

Rupanya acara belum berhenti dan dilanjutkan dengan omong-omong tentang organisasi selama ini dan prosfeknya di masa yang akan datang. Akhirnya kami berpindah tempat ke ruang rapat Dirjen karena kebetulan tiga orang pengurus pusat dari unsur pembina hadir yaitu Bapak Sholeh Dhimyati (Ketua Dewan Pembina), Ridwan Mias (Anggota Dewan Pembina) dan Ibu Iim Halimah (Bendahara Umum).

Tak dinyana Rakor itu membahas hal-hal yang sensitif di tubuh organisasi terutama kepemimpinan Pimpinan Pusat dibawah Bapak Achjar Chalil. Kami dari pengurus wilayah mengikuti secara cermat sekaligus mengetahui bahwa Agupena memang ingin menjadi organisasi yang profesional, egaliter, demokratis dan terus membangun semangat kebersamaan. Saya sempat mengusulkan agar the rule of game dari Agupena semakin disempurnakan agar menjadi pegangan yang kuat di tingkat pusat, wilayah maupun daerah. Usul saya direspon dan akan dibahas secara tuntas dalam Rakernas yang diagendakan bulan Desember di Semarang. Acara Rakor berlangsung dengan lancar, penuh canda tawa dan kadang saling memberikan masukan atau kritikan satu sama lain.

Akhirnya acara yang dinantikan tiba, makan siang bersama. Pak Achjar mengajak kami makan siang di kantin Depdiknas dan acara makan pun berjalan dengan penuh keakraban dan semakin memperat hubungan antarpengurus satu dengan yang lainnya. Kami bebas memilih menu apa saja, ada sop buntut, sop daging, bakso dan yang lainnya sesuai selera nusantara. Dalam batin saya, oh ini mungkin liburan saya tahun ini, makan bersama dengan pengurus Agupena yang latarbelakangnya berbeda-beda. Pak Achjar dari Aceh, Pak Ridwan Mias dari Bengkulu, Bu Chusnul dari Jatim dan yang lain dari Jawa. Liburan tidak harus dimaknai dengan pergi ke pantai, pegunungan atau tempat rekreasi ansich, tapi juga kegiatan yang dapat membuat kita bahagia, fresh dan segar. Makan bareng di kantin Depdiknas itu saya rasakan sebagai suasana yang menyenangkan.

Selepas makan siang dilanjutkan shalat dzuhur berjamaah di Masjid Depdiknas dan rencana melanjutkan perjalanan ke kantor SEAMOLEC (Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre) yang berada di Kompleks Universitas Terbuka dengan membutuhkan waktu untuk perjalanan selama 2 jam.

Tiba, di kantor SEAMOLEC itu kami disambut oleh Bapak Ith Vuthy, M.Sc., M.A. seorang direktur progaram yang berasal dari Vietnam dan menarinya beliau lancar banget menggunakan bahasa Indonesia. Setelah Pak Ith mengucapkan selamat datang dan memberikan sambutana, kami disuguhi informasi tentang seputar SEAMOLEC oleh Bapak Timbul Pardede. Menurutnya, di bawah kepemimpinan DR. Ir. Gatot Hari Priowirjanto, SEAMOLEC yang dibentuk berdasarkan kerja sama 11 Menteri Pendidikan Asia Tenggara (Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailan, Timor-Leste, dan Vietnam) ini berupaya untuk memajukan kerjasama di pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Asia Tenggara.

Masih menurut Pak Timbul yang berasal dari Batak, sudah banyak program yang dilakukan SEAMOLEC selama ini. Visi yang diemban yaitu menjadi pusat keahlian secara terbuka dan belajar jarak jauh yang mengemban misi untuk melayani satu juta orang klien menjelang 2010 dalam upaya membantu negara-negara anggota untuk mengidentifikasi masalah kependidikan dan menemukan alternatif pemecahannya. Salah satu di antaranya adalah mendekatkan guru di berbagai jenjang dan tingkat pendidikan terhadap multi-media pembelajaran berbasis ICT.

Saat tanya jawab, saya langsung menyampaikan rencana Lomba Blog Guru dan Temu Bloger se-Indonesia Tahun 2009 dan sekaligus memohon untuk kerja sama secara sinergis dengan SEAMOLEC dalam kegiatan itu, terutama berkaitan dengan pengadaan media ICT (laptop) sebagai hadiah lomba.

“Kemungkinan itu sangat terbuka,” jawab Pak Timbul Pardede. “Tapi, mengapa lomba blognya tidak diperluas dalam lingkup yang lebih luas hingga negara-negara anggota SEAMOLEC bisa mengikutinya?” lanjut Pak Pardede bertanya.

“Iya, ini tantangan bagi Agupena! Mengapa tidak?” sahut Pak Achjar Chalil.

Hmm … menarik juga tantangan ini. “Namun, karena lomba blog untuk guru tingkat nasional itu sudah diprogramkan, ada baiknya buat proposal baru untuk agenda berikutnya dengan event yang lebih luas,” sela Pak Vuthy. “Berikan saja proposalnya untuk kami tindaklanjuti,” lanjutnya. Sementara itu, Agupena Jawa Barat dan Jawa Timur berupaya menjalin kerja sama dengan SEAMOLEC di bidang pendidikan dan pelatihan (Diklat) pemanfaatan media ICT untuk para guru di wilayahnya masing-masing.

Kesimpulan saya, akhir tahun ini nggak mengapa, saya tidak bisa menikmati liburan seperti tahun tahun sebelunya, namun banyak hikmah dan manfaat yang dapat dipetik untuk kelangsungan organissai Agupena di masa mendatang. Seperti pepatah bilang, “ Kepentingan umum harus didahulukan ketimbang kepentingan pribadi”. Saya yang ketiban sampur dan “dipaksa” menjadi Ketua Agupena Jateng memang harus siap dengan segala konsekuensi itu demi eksisnya organisasi ini.

Semoga harapan semua pihak bahwa Agupena Jateng dapat menjadi wadah yang bermakna dan bermanfaat bagi kemajuan pendidikan serta peningkatan profesionalisme guru dapat terwujud ketika motto membangun semangat berbagi telah mulai dirasakan. Dukungan dari berbagai pihak pun selama ini alhamdulillah terus mengalir.

Terima kasih Sesditjen PMPTK, Direktur Seamolec, LPMP Jateng, Dinas Pendikan Provinsi Jateng, Pimpinan Suara Merdeka, Penerbit Asta Aji Pustaka, para Kadinas Kabupaten/Kota dan seluruh pengurus Agupena baik pusat, wilayah maupun daerah atas jalinan kerjasama dan upaya membangun semangat berbaginya


Continue Reading...

6 June 2009

Email Prita Mulyasari Bikin Heboh

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.


Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.


Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita MulyasariAlam Sutera

Continue Reading...

24 May 2009

SISWANDI, BUKAN SEORANG GURU BIASA

Siswandi, seorang guru sekaligus kepala sekolah ini, merupakan salah satu Pembina Agupena Jawa Tengah. Beliau lahir di sebuah desa yang sepi, pada tanggal 4 Juni 1959, tepatnya di desa Kaliori Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas. Ayahnya bernama Hadi Aswan (Mantan Guru) dan ibunya Suprihatin. Menurut ibunya, Siswandi saat lahir memiliki tubuh yang amat kecil dan kurus sehingga sering dijuluki seekor kucing kecil. Anak kedua dari delapan bersaudara (empat orang meninggal dunia) ini memiliki semangat kepenulisan yang luar biasa dan perlu ditiru oleh segenap keluarga besar Agupena.

Berlatih Menulis
Siswandi mulai belajar menulis artikel saat beliau sudah masuk semester dua di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Muhammadiyah Purwokerto. Awal konsep ditulis tangan, setelah itu diketik di balai desa Kaliori atau meminjam mesin ketik milik SD Kaliori 1. Biasanya beliau mengetik pada hari Sabtu sore sampai Minggu siang.
Konon, mengetik naskah selembar saja harus menghabiskan waktu hampir dua jam. Setelah naskahnya selesai, kemudian beliau kirimkan ke Redaksi SKM Jakarta dengan perangko biasa sebesar Rp 50,00 kala itu.

Menurut penuturannya, “ Entah berapa puluh naskah yang dikirimkan ke Redaksi Suara Karya Minggu (SKM), namun tak pernah terpampang tulisannya , di setiap edisi terbaru.” Beliau juga rajin menulis puisi, artikel remaja dan gambar vignette, tetapi berbulan-bulan tetap tak ada satu pun tulisannya yang dimuat.

Dengan kenyataan tersebut, teman dekat sekolahnya, Bambang sempat berujar” Buat apa kirim tulisan terus kalau tidak dimuat. Sudah payah, pusing, uang untuk beli perangko melayang sia-sia. Untuk beli bakso jelas ada gunanya.” Mendengar kata-kata temannya itu, Siswandi sungguh merasa sedih dan sakit. Beliau katakan, “ Seperti ditusuk ribuan jarum.”

Namun, bukan Siswandi namanya kalau harus patah semangat. Dia terus menulis dan menulis sampai akhir kelas 3 SPG. Namun rupanya dewi portuna masih belum mau menghampirinya, sehingga sampai kelas 3 SPG itu tidak ada satu pun naskah yang dimuat. Sekali lagi beliau tidak putus asa dan sempat terhibur ketika mendapat informasi melalui kontak pembaca SKM bahwa setiap minggunya ada sebelas ribu naskah yang masuk ke redaksi SKM dan berarti banyak teman lainnya yang ditolak dan memiliki nasib yang sama.

Akhirnya Siswandi banting setir, karena gagal terus di SKM, memilih untuk berlatih mengarang menggunakan bahasa Jawa. Beliau menulis dongeng untuk koran berbahasa Jawa, namanya Parikesit yang diterbitkan di Solo. Rupanya dari sini debut kepenulisan Siswandi dimulai, ketika naskah dongengnya dimuat dalam satu halaman penuh. Betapa bahagianya Siswandi kala itu dan mendapat honor sebesar Rp 500,00 (lima ratus rupiah) yang setara dengan harga bakso lima mangkuk. Dia pun mendapat uacapan selamat dari keluarga dan teman-temannya.

Kesuksesan pertama ternyata menjadi pendorong Siswandi untuk terus menulis. Selanjutnya beliau menulis lagi beberapa dongeng yang dikirim ke Majalah Jawa Penyebar, hasilnya naskahnya kembali dimuat dan selanjutnya setiap naskah yang dikirim ke Parikesit pun hampir setiap minggu dimuat.

Debut Kepenulisan
Bakat dan kemampuan kepenulisan Siswandi terus diasah, termasuk ketika pertama kali mendapat tugas sebagai guru SD di tempat terpencil, tepatnya SD Negeri Cikakak 4 (6 KM jalan kaki dari ibukota kecamatan). Di rumah dinas guru, Siswandi menghabiskan masa mudanya untuk mengajar siswa sekaligus mengembangkan kepenulisanya di tempat yang sepi dan sunyi. Mengingat di sekolahnya belum ada mesin ketik, maka Siswandi membuat konsep tulisan tangan untuk kemudian diketik di rumah. Beliau merencanakan kalau sudah mendapat gaji pertama akan membeli mesin ketik.

Bulan pertama, Siswandi berhasil menyelesaikan cerita bersambung bahasa Jawa dengan judul Ati Kang Keri (Hati yang Tertinggal). Cerita itu dimuat secara bersambung di koran Mingguan Jawa Parikesit. Koran itu oplahnya besar karena hampir semua SD di Jawa Tengah dijatah untuk berlangganan.

Naskah Siswandi akhirnya sering muncul dan membuat honornya semakin banyak. Sebelum rapel gaji beliau terima, sudah berhasil membeli mesin ketik merk fish yang harganya Rp 27.000,00 pada awal tahun 1980. Honor penulisannya datang silih berganti dari berbagai penerbitan. Konon beliau tidak pusing lagi masalah keuangan karena belum gajian pun duitnya masih banyak.

Tempat mengajarnya yang sunyi dan terpencil itu seolah membawa hoki tersendiri, karena dari sana lahir berbagai karya Siswandi. Inspirasinya terus mengalir dan mengalir bagaikan air sungai. Aktifitasya mengajar dan mengetik naskah. Sampai tiba saatnya, SKM yang dulu selalu menolak tulisan beliau, akhirnya luluh tak berdaya dan mau menerbitkan karyanya.

Sejak itulah Siswandi mulai dikenal dan menjadi pembicaraan orang banyak terutama di wilayah Wangon. Hampir setiap minggu rekan sejawatnya membaca tulisan beliau. Sebagian honor tulisannya digunakan untuk mentraktir makan bakso teman-temannya dan jalan-jalan ke Purwokerto.

Siswandi, dari Lomba ke Lomba
Setelah sukses menulis di media, Siswandi yang telah lama menjadi guru mencoba peruntungannya untuk mengikuti lomba. Beliau mulai mengikuti lomba atas desakan Kepala Dinas Pendidikan Wangon saat itu tahun 1992. Waktu itu ada pengumuman lomba mengarang cerita anak berbahasa Jawa yang diadakan oleh Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Akhirnya dewi fortuna itu mau mendekatinya, dengan judul naskah Langite Hiru Resik (Langit Biru Bersih) berhasil menjadi pemenang pertama setelah menunggu pengumuman selama 3 bulan. Hadiahnya berupa Tabanas sebesar gaji selama satu bulan ditambah trophy.

Tahun berikutnya, Siswandi megikuti lomba yang sama dan berhasil menjadi juara dua. Menurut beliau, “ Saya senang membaca majalah Jawa sejak SMP”. Sehingga menjadi modal tersendiri dalam memenangkan perlombaan.

Tahun 1993 Siswandi kembali mengikuti lomba dan kali ini lomba mengarang guru tingkat nasional. Awalnya dia tidak mau iku karena merasa kurang percaya diri ketika dari Bayumas belum ada satu pun guru yang berhasil menjadi pemenang.

Bukan Siswandi namanya kalau tidak mencoba, Akhirnya, Siswandi menulis karangan yang berjudul Pelangi di Atas Taman Hati. Dan sungguh menggembirakan, karyanya masuk final 6 besar dan harus ikut bertanding di final yang diadakan di Jakarta dan akan dibuka langsung oleh Mendikbud kala itu, Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro.

Rupanya Siswandi memang bukan guru biasa, dia kembali menunjukkan kemampuannya dengan menggondol juara ketiga Lomba Mengarang Guru Tingkat Nasional dengan membawa pulang throphy dan Tabanas senilai Rp 600,000 padahal gajinya waktu itu hanya Rp 275.000 ditambah uang transport dan jalan-jalan ke tempat rekreasi secara gratis.

Kerinduan untuk meraih juara selalu membuat Siswandi makin bersemangat mengikuti lomba mengarang. Pada bulan Maret 1994, beliau mendapat brosur tentang Sayembara Penulian Naskah Buku bacaan dari kantor Depdikbud Kecamatan Wangon. Semangat menulis Siswandi memang tiada duanya, saat itu beliau langsung menulis naskah buku dan membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikannya. Naskah kali ini diberi judul Lambaian Seribu Bunga dan lagi-lagi Siswandi beruntung karena berhasil menjadi juara ketiga dengan hadiah sebesar Rp 750.000.

Setahun meraih Tiga Gelar Juara
Tak puas dengan prestasi yang telah dicapai, Siswandi terus mengikuti lomba. Tahun 1995 beliau mengikuti lagi sayembara penulisan naskah buku bacaan dengan pilihan buku bacaan fiksi SD. Dengan menulis cerita mengambil setting perkampungan nelayan dengan tokoh utamanya Gunawan dan diberi kudul Senandung Ombak. Untuk karya kali ini berhasil mendapat juara harapan kedua dengan hadiah Rp 1.000.000,00

Boleh jadi, tahun 1995 itu menjadi tahun keberuntungan bagi Siswandi karena berhasil menggaet juara sampai tiga kali berturut-turut. Selain juara harapan nasional, juga masuk nominasi Provinsi Jawa Tengah dan mendapat hadiah Rp 1.250.000.00 ditambah juara kedua mengarang cerita anak berbahasa jawa tingkat provinsi Jawa Tengah.

Keberuntungan Siswandi berikutnya, buku Seandung ombak tak lama kemudian terbit dan Siswandi mendapat royalty Rp 5.400.000,00 Menurut penuturannya, “ Dengan satu buku itu saya bisa membangun dapur keramik, kamar mandi dan ruangan tingkat 2 ukuran 3 X 6 meter”.

Masih banyak prestasi kepenulisan beliau yang lain yang berhasil diraih. Saking banyaknya, maka penulis akhiri sampai di sini.

Ibroh yang dapat dipetik adalah menulis merupakan keterampilan yang perlu diasah dan dikembangkan terus menerus. Sosok Siswandi ini barangkali bisa menjadi spirit bagi kita untuk terus belajar menulis.

Selamat untuk Pak Siswandi atas capaian prestasinya. Dan terima kasih atas kesediaanya untuk berbagi dan menjadi pembina Agupena Jawa Tengah. ***


Continue Reading...

25 April 2009

SEMINAR NASIONAL PENULISAN LOMBA PENULISAN ARTIKEL

LATAR BELAKANG
Kemampuan menulis merupakan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dengan menulis, seorang guru dapat mengembangkan kemampuan berpikir dinamis, kreatif, dan kemampuan menganalisis serta kemampuan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Namun kemampuan ini jarang ditingkatkan. Tak heran, jika masih tetap melekat stigma pada sebagian besar guru “Menulis itu sulit dan saya tidak bisa“. Hal ini perlu dicari solusinya agar kualitas pendidikan kita meningkat. Ibarat kita sedang sakit, kita perlu mencari penyebab sakit kita.

Seminar Nasional “Penulisan Buku dan Karya Ilmiah” dan Lomba Penulisan Artikel bagi Guru se-Jawa Tengah dengan tema “Membudayakan Menulis di Kalangan Guru”, yang digagas oleh Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (AGUPENA) Wilayah Provinsi Jawa Tengah berupaya mencari solusi sekaligus menjadi kontributor untuk meningkatkan kesadaran guru akan pentingnya budaya menulis.


TEMA : “ MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN GURU”

TUJUAN
1.Menambah informasi dan wawasan dalam hal penulisan buku dan karya ilmiah.
2.Memberikan semangat dan motivasi baru bagi guru untuk meningkatkan kompetensinya dalam bidang tulis-menulis.

SEMINAR NASIONAL PENULISAN BUKU DAN KARYA ILMIAH
PEMBICARA
1.H. Ahmad Tohari (Budayawan dan Penulis Internasional, Pembina Agupena Jawa Tengah)
2.Dr. Mulyadi HP, M.Pd. (Ketua Asosiasi Widyaiswara Indonesia dan Tim Penilai Karya Ilmiah, Pembina Agupena Jawa Tengah)


PESERTA
Guru PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK untuk semua guru mata pelajaran.
WAKTU & TEMPAT
Kamis, 25 Juni 2009, 08.00 – 14.00 WIB
di LPMP Jawa Tengah, Jl. Kyai Maja, Srondol, Semarang, Jawa Tengah.

BIAYA PENDAFTARAN
Biaya pendaftaran sebesar Rp. 75.000,- sudah termasuk snack, makan siang, paper, dll.


WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
Pendaftaran paling lambat tanggal 20 Juni 2009. Pendaftaran dapat dilakukan dengan cara:

1. Melalui telepon dengan urutan:
Mentransfer biaya pendaftaran melalui BNI Capem UNS a.n. Johan Wahyudi No. Rek. 0167919194
Menginformasikan SEGERA setelah melakukan transfer uang biaya pendaftaran melalui telepon (bukan SMS) ke Johan Wahyudi (08562517895, 02712015778)

2. Melalui koordinator wilayah masing-masing:
Banyumas Dra. Hj. Endar Yuniarti, M.Hum.
HP. 081327014301 SMKN 3 Purwokerto
Drs. Heri Suritno HP. 081327227205
SDN Siwarak Wetan Tambak Banyumas

Purbalingga
Teguh Trianton, S.Pd HP. 08056987444
SMK Widya Manggala Purbalingga

Brebes
Sadimin, S.Pd., S.Ip., S.Ipem. HP. 081329682084
SMAN 3 Brebes

Pemalang
Drs. Samsudin HP. 081328015877
SMPN 3 Pulosari, Pemalang

Pekalongan
Zulmasri, S.S. HP. 085642638639
SMPN 2 Talun Pekalongan

Batang
Asim, S.Pd. HP. 081327119947
SD Kambangan 2 Blado Batang

Kendal
Drs. Sawali Tuhusetya, M.Pd. HP. 0822895208
SMPN 2 Pegandon Kendal

Semarang
Drs. Edi Marwanda HP. 081325360220
SMKN 7 (STM Pembangunan) Semarang
Diyarko, S.Pd HP. 081325952303

SMKN 11 Semarang
Hery Nugroho, S.Pd.I HP. 081325360001
SMPN 7 Semarang

Purworejo
Nikmah Nurbaity, M.Pd HP. 081327008618
SMAN 11 Purworejo

Magelang
Nok Mujianti, S.Pd HP. 08562969327
SMPN 11 Magelang

Demak
Zaenal Abidin, S.Pd., M.Si. HP. 085225107979
MAN Demak

Sukoharjo
Budi Harjo, S.Pd., M.Pd HP. 081393116610
SMP Islam Al-Azhar 21 Sukoharjo

Surakarta
Yuni Susilowati, S.Pd. HP. 085725502721
UNS Surakarta
Pris Priyanto, S.Kom., M.Kom HP. 081329222741
SMA Batik 1 Surakarta

Wonosobo
Haryati, S.Ag HP. 085292387183
MAN Mendolo Wonosobo

Wonogiri
Witono, S.Pd HP. 085229930721
SMPN 1 Purwantoro Wonogiri

Cilacap
Rr. Septriwi Antarsari, S.Pd. HP. 0817259310
Al-Azhar 16 Play Group Kindergarten Islamic School Cilacap

Sragen
Johan Wahyudi, S.Pd. HP. 08562517895
SMPN 2 Kalijambe Sragen

Blora
Andreas Sutrasno, S.Pd HP. 08122816169
SMPN 5 Blora

Pati
Izzul Hasanah 085640890783
SMK Tunas Harapan Pati

Rembang
Tri Budiyono, S.Pd. HP 081390072998
SMPN 1 Pamotan Rembang

Klaten
Drs. Zulkarnaen SL HP. 081329030243
SMAN 1 Jatinom Klaten

Kebumen
Martiyono, S.Pd HP. 085726596325
SMP 4 Kebumen

Banjarnegara
Drs. Widi Purwanto HP. 081327451828
SMPN 3 Punggelan Banjarnegara

Temanggung
Parjuni, S.Pd HP. 08122778766
SMPN 6 Temanggung

Grobogan
Wahono, M.Pd. HP 08112706671
SMPN 1 Tanggungharjo, Grobogan

LOMBA PENULISAN ARTIKEL BAGI GURU SE-JAWA TENGAH
PESERTA
Guru PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK untuk semua guru mata pelajaran.
Peserta BUKAN pengurus AGUPENA Jawa Tengah.
Peserta lomba harus menjadi peserta Seminar Nasional ”Penulisan Buku dan Karya ilmiah” tersebut.
Penyerahan ARTIKEL
Artikel dikirimkan secara langsung ke koordinator wilayah masing-masing atau melalui e-mail ke agupena64@gmail.com
Batas akhir penyerahan artikel 15 Juni 2009
Pengumuman 3 (tiga) artikel terbaik 25 Juni 2009
Aturan Penulisan
Artikel yang diserahkan merupakan hasil karya perorangan, bukan hasil duplikasi karya orang lain
Artikel belum pernah dipublikasikan.
Artikel yang dibuat harus merujuk sekurang-kurangnya 2 (dua) referensi utama.
Format penulisan artikel lengkap (minimal 5 halaman, ukuran kertas A4, dengan huruf Times New Roman ukuran 10 point, 1.5 spasi).
Tema : MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN GURU
Penghargaan/Apresiasi
Pemenang akan mendapatkan hadiah masing-masing :
Juara I : Rp. 1.000.000 + Piagam
Juara II : Rp. 750.000 + Piagam
Juara III : Rp. 500.000 + Piagam
Seluruh peserta Lomba Penulisan Artikel yang tidak menjadi juara akan mendapat Surat Keterangan (Partisipasi Peserta) dari Ketua Umum Agupena Jawa Tengah
Lain-lain
1. Artikel yang masuk menjadi hak panitia dan akan diterbitkan di Web Agupena Jawa Tengah (http://agupenajateng.net/) atau Majalah Agupena Jawa Tengah
2. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
3. Keterangan lebih lanjut dapat menghubungi panitia Lomba Penulisan Artikel melalui HP. 08170600305, 085225107979, 085725502721
FORMULIR PENDAFTARAN
(Bisa difotokopi)
SEMINAR NASIONAL
MEMBUDAYAKAN MENULIS DI KALANGAN GURU
(Isi formulir lalu kirimkan ke Kordinator Pendaftaran)
Nama : ..................................................
Tempat/
Tgl Lahir : ...................................................
Alamat Kantor : ....................................................
Telp/Fax : ....................................................
Alamat Rumah : ………………………………………………….
………………………………………………….
………………………………………………….
Telp/HP : ………………………………………………….
Email : ……………………………………………………
_____________________2009
Pendaftar
_______________________
(Nama Jelas & Tanda Tangan)
Continue Reading...

22 April 2009

Caleg Stres

Caleg yang stres karena gagal menjadi wakil rakyat, nampaknya bukan lagi menjadi berita aneh. Setiap hari kita disuguhi informasi yang satu ini oleh media massa cetak maupun elektronik. Fenomena itu juga telah diprediksikan sebelumnya oleh para psikolog atau psikiater.

Stres adalah suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Banyak hal yang bisa memicu stres muncul seperti rasa khawatir, perasaan kesal, kecapekan, frustasi, perasaan tertekan, kesedihan, pekerjaan yang berlebihan, Pre Menstrual Syndrome (PMS), terlalu fokus pada suatu hal, perasaan bingung, berduka cita dan juga rasa takut. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Stres).Caleg yang begitu 'ngebet' pengin menjadi aleg, menjadi hilang kesadaran dirinya ketika kenyataan tidak sesuai. Apa yang diidamkan sebelumnya untuk menjadi orang yang memiliki kekuasaan, bergaji besar, terhormat dan status sosial meningkat sirna dan yang terjadi adalah kekecewaan dan kesedihan luar biasa. Untuk mereka yang memiliki pertahanan diri bagus, maka kekecewaan itu dapat segera diatasi dan kembali berkipras seperti biasa. Namun, bagi sebagian caleg lain, justru menyebabkan hilangnya kesadaran dan kontril diri. Akibat stresnya pun macam-macam, ada caleg yang berperilaku aneh bahkan sampai melakukan bunuh diri.







Continue Reading...

12 April 2009

Sertifikasi Model Portofolio dan Profesionalisme Guru

Menarik dicermati peryataan Kabid Pengembangan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan , Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Herni Sulasti, saat diskusi, selepas sosialiasi kepengurusan Agupena Banyumas. Beliau mengatakan bahwa sertifikasi guru dalam jabatan yang selama ini telah dilaksanakan pemerintah belum berimplikasi positip terhadap peningkatan profesionalisme guru di Banyumas.

Pernyataan ini bagi saya penting digarisbawahi mengingat kapasitas beliau sebagai seorang 'pejabat' yang bertanggung terhadap peningkatan kualitas guru di Banyumas. Konon, informasi yang beliau sampaikan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Banyumas.

Sesungguhnya, saya setuju dengan pendapat beliau dan dalam beberapa forum yang sempat diikuti, baik sebagai peserta maupun narasumber, saya sering mengatakan bahwa memang tidak ada korelasi yang signifikan antara Sertifikasi Guru Dalam Jabatan yang saat ini berjalan dengan meningkatnya kualitas atau profesionalisme para guru.

Untuk apa program serifikasi guru itu? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan membaca Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 18 tahun 2007, tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan. Dijelaskan didalam Permendiknas itu bahwa program sertifikasi guru dilaksanakan untuk mengakomodir berbagai kompetensi yang harus dimiliki guru agar dapat memenuhi standar guru professional dan berkualitas. Lantas kompetensi itu meliputi apa saja, paling tidak ada 4 (empat) yang terdiri dari: 1) kompetensi akademik yaitu kapasitas keilmuan yang harus selalu diupdate dari waktu ke waktu, 2) kompetensi pedagogi yaitu kemampuan mengembangkan pendekatan-pendekatan dalam pengajaran, sehingga siswa akan memperoleh kenikmatan dalam mengikuti proses pembelajaran, 3) kompetensi personaliti yaitu peta kepribadian seorang guru yang patut menjadi teladan bagi setiap siswanya serta masyarakat sekitarnya. 4) kompetensi sosial yaitu kepiawaian guru dalam berkomunikasi dan mengkomunikasi hal-hal yang penting dalam aktivitas sehari-hari baik di sekolah maupun di lingkungan sekitarnya.

Permasalahan yang kemudian muncul adalah ketika pemerintah menerapkan model sertifikasi itu dengan fortofolio. Mengapa bermasalah? Karena portofolio sejatinya hanya sekedar 'ngumpulin dokumen' mati yang barangkali sebelumnya dianggap tidak berguna untuk kemudian dijadikan bahan penilaian. Inilah biang keroknya.

Menurut Collins (1992) dalam Susilo (2003) portofolio adalah suatu kumpulan bukti yang dikumpulkan untuk tujuan tertentu. Bukti ini berupa dokumen yang dapat digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menyimpulkan mengenai pengetahuan, keterampilan dan atau watak penyusunnya. Secara lebih lugas Yasin (2004) berujar portofolio merupakan kumpulan tugas, pengalaman belajar dan hasil kerja sendiri. Dengan demikian maka Portofolio Guru berarti kumpulan dokumen yang dimiliki para guru dalam rentang waktu tertentu.

Yang menarik bahwa guru adalah manusia yang terkadang juga melakukan kesalahan atau terdorong hawa nafsu. Portofolio yang awalnya diharapkan akan mendongkrak kemampuan sang guru, pada kenyataannya banyak mengalami penyimpangan. Sebagian modus yang dilakukan oknum guru yaitu memanipulasi dokumen-dokumen secara sengaja demi tercapainya hasrat rendah lulus sertifikasi. Bentuk manipulasi ini berbagai macam, mulai mengganti nama di sertifikat sampai tidak mengikuti acara ilmiah berupa seminar tetapi nitip sertifikat.

Sampai kapanpun kalau model sertifikasi yang dijalankan masih dengan model portofolio maka tidak akan tercapai yang namanya profesionalisme guru. Kalau meningkatnya kesejahteraan guru mungkin ya, tapi sungguh sayang kalau uang rakyat dihamburkan hanya demi menambah penghasilan para guru tanpa ada korelasi dengan kualitasnya.
Continue Reading...

9 April 2009

Pemilu 2009, Aku Golput Lagi

9 April 2009 ini, sekitar 200 juta rakyat Indonesia melakukan pencontrengan di TPS masing-masing. Namun, entah mengapa, hati ini masih belum tergerak untuk ikut memberikan contrengan di kertas suara yang besar dan tebal itu. Sikap ini merupakan kali ketiga, setelah sebelumnya saat Pilkada Bupati dan Gubernur juga memilih untuk tidak memilih.

Ada sejumlah alasan, mengapa sikap ini dipilih sampai sekarang. Mungkin yang paling utama ketidakpercayaan akan hadirnya perubahan di negeri ini. Setiap partai dan Caleg masih berkutat berlomba-lomba meraih kursi parlemen dengan berbagai cara tanpa ada kejelasan kalau sudah terpilih mau apa dan bagaimana.

Sesungguhnya, sikap saya Golput barangkali kurang bijaksana, di tengah upaya sebagian tokoh dan masyarakat untuk terus menerus memperbaiki kualitas kehidupan politik dan demokrasi di negeri ini. Namun rupa-rupanya, harapan tinggal harapan. Berbagai kekecewaan terhadap buruknya kinerja Aleg periode 2004-2009 terus saja menghantui benak dan pikiran saya.

Kasus suap dan korupsi yang dilakukan anggota DPR seolah tiada henti dari pemberitaan di televisi dan surat kabar, termasuk kasus terakhir yang melibatkan anggota DPR, Abdul hadi Jamal.

Apakah sistem pemilu seperti sekarang akan menghasilkan anggota DPR yang baik dan berkualitas? Rasanya masih belum. Sebagian besar Caleg jor-joran untuk menggelontorkan uang (sebagian ngutang) untuk biaya kampanye. Dan tentu sudah bisa ditebak, apa yang dipikirkan pertama kali ketika sudah terpilih, mengembalikan modal bukan? Dan jangan dipikir pula bagi yang kebetulan tidak lolos, alamat stress yang menimpanya.

Mungkin saatnya nanti, saya juga akan kembali berpartisipasi dalam pemilu dan menggunakan hak saya itu.

Continue Reading...

2 April 2009

Guru Kesulitan Buat Karya Tulis

(Sumber: Suara Merdeka). PURWOKERTO-Ketua Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) Jawa Tengah, Deni Kurniawan As'ari menyatakan, banyak guru yang kesulitan membuat karya tulis. Bagi guru PNS, hal itu mengakibatkan terkendalanya mendapatkan poin dalam sertifikasi.

Untuk mengatasi hal tersebut, menurut Deni, Agupena menyelenggarakan workshop penulisan di daerah-daerah, seperti di Purwokerto, Kamis lalu. Melalui kegiatan itu, diharpakan para guru dapat sedikit demisedikit menulis artikel di media massa untuk mendapatkan poin.


Meski baru pertama kali diselenggarakan, workshop tersebut diikuti lebih dari 250 peserta dari kalangan guru, dosen, kepala sekolah, pengawas, widyaiswara, pemerhati pendidikan dan tenaga kependidikan. Adapun materi teknik penulisan artikel, disampaikan wartawan Suara Merdeka Biro Banyumas, Didi Wahyu.

Minta Penghargaan
Semangat para guru untuk bisa menulis juga cukup besar, terbukti banyak pertanyaan yang dilontarkan pada pemateri. Salah satu peserta dari Banjarnegara, Joko Sulistiono, yang mempertanyakan dari sekian banyak artikel yang dimuat di SM, berapa persen kuota yang disediakan untuk pendidikan.

Selain itu dia juga mengusulkan bagi guru yang tulisannya dimuat selain mendapat honor juga diberi piagam. “Piagam tersebut bermanfaat untuk melengkapi berkas kenaikan pangkat ke IV B,” ujarnya berharap.

Bahkan, ada guu yang mengusulkan, meski tulisannya tidak dimuat, diberi tanda bukti pernah mengirim artikel. Dalam menyampaikan materinya, Didi Wahyu mengemukakan sejumlah kriteria agar tulisan yang dikirim bisa dimuat di media massa. Kriteria itu diantaranya, memiliki analisis yang tajam, penulis menguasai topik yang dibahas serta merupakan tulisan yang orisinil atau buah pikiran asli penulis.

Selain itu, setiap artikel hendaknya mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain. Baik informasinya, pandangan, pencerahan, saran maupun solusinya. Peserta juga ada yang berharap SM biro Banyumas bersedia memberikan bimbingan atau konsultasi bagi penulis terutama para guru.

Acara workshop yang dibuka Kepala Dinas Pendidikan, Purwadi Santoso diisi pula dengan bedah buku. Khusus untuk acara penulisan artikel, sebagian peserta menilai waktunya sangat kurang. (P 16-75)

Continue Reading...

12 March 2009

BEDAH BUKU AND WORKSHOP MENULIS ARTIKEL

Continue Reading...

9 March 2009

Organisasi Guru Penulis dan Budaya Menulis di Kalangan Guru

Guru merupakan sebuah profesi yang ‘memungkinkan’ pelakunya untuk melakukan aktivitas menulis. Mengapa? Karena secara kapasitas intelektual memadai, pengalaman mendukung dan dari segi waktu atau kesempatan terbuka lebar. Berbagai topik dapat dipilih untuk menjadi bahan tulisan, mulai dari permasalahan pembelajaran, isu pendidikan, kebijakan pemerintah, sampai menulis buku atau artikel di media massa.

Namun, fenomena memprihatinkan muncul di lapangan, bahwa sebagian besar guru khususnya di Jawa Tengah masih enggan menulis. Data yang dikemukakan Sukartono, S.Ip., MM (LPMP Jawa Tengah, 4/2) saat membuka pertemuan guru penulis menarik dicermati, bahwa persentase guru PNS di Jawa Tengah yang sudah berhasil naik pangkat ke golongan IV-B masih sangat rendah. Untuk guru SD (0,20%), SMP (2,04%), SMA (1,65%), dan SMK (1,46%). Menurut beliau, banyaknya jumlah guru yang mentog pada golongan IV-A disebabkan karena sebagian besar guru masih mengalami kendala dalam mengumpulkan angka kredit pengembangan profesi melalui penulisan karya ilmiah (Sawali Tuhusetya : http://sawali.info). Nasib serupa dialami sebagian besar guru swasta yang banyak mengalami kegagalan saat mengikuti sertifikasi karena pengembangan profesi berupa karya tulisnya masih kosong-molongpong.


Faktor Penyebab
Ditengarai ada sejumlah faktor yang menyebabkan para guru itu masih enggan menulis diantaranya:
Satu, kesibukan. Sebagian besar guru mengatakan bahwa tugas guru sangat banyak terutama terkait dengan administrasi pembelajaran, ditambah lagi kalau mendapat tugas tambahan sebagai wakil kepala, ketua jurusan, pembimbing ekstra atau wali kelas sehingga konon nyaris tidak ada waktu untuk menulis.

Dua, terjebak rutinitas kerja. Aktifitas mengajar dari pagi sampai siang, bahkan sampai malam bagi sebagian guru yang suka ngelesi (memberi pelajaran tambahan) tanpa sadar telah menjadikan guru terpola, yang hari-harinya diisi hanya untuk mengajar dan mengajar. Tiga, rendahnya motivasi menulis. Barangkali faktor ini yang paling ‘berbahaya’ ketika keinginan untuk menulis memang lemah atau sama sekali tidak ada. Empat, kemalasan. Inilah sesungguhnya yang banyak menjangkiti para guru. Ada perasaan berat dan seolah menjadi beban tersendiri ketika harus menulis. Kemalasan ini tidak hanya dalam aktivitas menulis tetapi juga membaca. Dan, ketika membaca sudah malas maka bagaimana mau menulis. Pelbagai faktor di atas, barangkali masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Yang jelas, alasan kesibukan dan pekerjaan sebenarnya dapat disiasati ketika keinginan menulis telah tumbuh dalam diri.

Pentingnya Organisasi Guru Penulis
Salah satu cara untuk mengatasi keengganan para guru untuk menulis adalah perlunya suatu wadah yang secara simultan dan terarah menciptakan iklim dan nuansa menulis yang pada akhirnnya mampu mendongkrak animo guru untuk menulis. Secara umum ada tiga alasan pentingnya wadah guru penulis. Satu, mewujudkan budaya menulis. Organisasi yang secara khusus dan fokus dalam kepenulisan diharapkan akan menciptakan tradisi menulis di kalangan guru. Pengurus dan anggota yang tergabung dalam wadah ini dapat saling berinteraksi satu sama lain untuk mewujudkan budaya menulis.

Dua, memahami dunia kepenulisan. Melalui wadah ini dimungkinkan terbantunya para guru yang sebelumnya masih kesulitan menulis atau bahkan malas untuk mulai menulis. Berbagai kegiatan dan event yang sekiranya mendukung seperti workshop, diskusi, seminar, temu penulis, sharing, atau bedah buku dapat menjadi alternatif yang bermanfaat. Apalagi fasilitas saat ini yang dapat dimanfaakan para guru untuk belajar menulis sungguh sangat banyak, termasuk aktivitas guru ngeblog penyemaian berbagai tulisan.

Tiga, Peningkatan kesejahteraan dan karir. Melalui organisasi guru penulis akan semakin ‘membanjir’ guru yang mau dan mampu menulis. Dampaknya langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap kesejahteraan guru. Misal, ada guru yang menyusun buku dan bukunya best seller sehingga memperoleh royalti yang melebihi gajinya sendiri. Selain itu kenaikan pangkat terutama bagi guru PNS akan berjalan lancar, termasuk guru swasta yang ingin lolos sertifikasi. Tentu saja, kesejahteran dan karir bukan tujuan utama, yang paling penting justru ketika para guru uang konon sekarang telah mendapat gelar baru sebagai insan cendekia dapat memaksimalkan amal sosialnya melalui tulisan-tulisan yang mencerahkan untuk kemajuan pendidikan.

AGUPENA, Antara Tantangan dan Harapan
Salah satu organisas yangi concern di dunia kepenulisan dan di Provinsi Jawa Tengah baru terbentuk adalah Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena). Organisasi ini muncul pertama kali digagas oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Doktor Fasli Jalal, pada tanggal 28 Nopember 2006 (http://agupena.org). Dalam perkembangannya, organisasi ini menghimpun para guru yang memiliki minat untuk mengembangkan diri dalam dunia kepenulisan.

Visi Agupena yaitu “melalui kegiatan menulis dan membaca, membimbing dan mendidik anak didik, menjadi manusia yang cerdas, aktif, kreatif, beriman dan bertaqwa, dan memiliki pola pikir yang cerah dan teratur”. Adapun misinya meliputi dua aspek, yaitu:
A. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga, dan Kesehatan yang diisi dengan butir-butir kegiatan, antara lain 1).Pelatihan Penulisan Silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, 2).Pelatihan Penulisan Rencana Program Pembelajaran (RPP), 3).Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah (buku pelajaran, makalah) yang terkait dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Olah raga dan kesehatan, 4).Pelatihan Penulisan Modul Bahan Ajar, 5) Penerbitan jurnal ilmiah, 6).Pelatihan menulis bagi siswa, 7).Lomba menulis dan membaca bagi guru dan siswa, 8).Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.

B.Agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika yang meliputi: 1) Pelatihan Penulisan karya ilmiah yang terkait dengan Agama dan Akhlak Mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, dan estetika, 2) Pelatihan Penulisan karya sastra (fiksi/non fiksi) dalam bentuk novel, puisi, cerpen, dan essay, 3) Pelatihan menulis karya sastra bagi guru dan siswa, 4) Penggalakan dan pemberdayaan majalah dinding sekolah dalam rangka membangun logika siswa lewat membaca dan menulis, 5) Dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan menulis dan relevan dengan tujuan pendidikan nasional dan pengembangan profesi guru.

Dengan mencermati visi dan misi AGUPENA, maka tidak menutup kemungkinan bahwa organisasi ini akan mampu mendorong budaya menulis di kalangan guru. Harapan ini sesungguhnya wajar saja ketika para guru yang terlibat dalam pembentukannya memiliki semangat MEMBANGUN SEMANGAT BERBAGI. Di samping itu, dukungan dari berbagai tokoh dan lembaga terhadap kelahiran organisasi sungguh luar biasa.

Barangkali tantangan yang perlu dihadapi oleh pengurus AGUPENA adalah bagaimana menjaga soliditas dan komitmen untuk selalu bekerjasama dan sama-sama bekerja. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan dan kreativitas pengurus untuk menggali dana, agar organisasi berjalan dengan baik, ketika AGUPENA telah mendeklarasikan dirinya sebagai organisasi yang independen, mandiri dan lepas dari pelbagai kepentingan pribadi dan politik sekaligus tidak akan menggantungkan diri dari bantuan dana yang bersumber dari pemerintah.

Akhirnya, semoga kelahiran AGUPENA dapat turut serta bersama organisasi lain dalam upaya pembudayaan menulis di kalangan guru dan memajukan dunia pendidikan.

Wallahu a’lam bhisshowab

Continue Reading...

3 March 2009

Korupsi dan Caleg DPR

Korupsi itu nampaknya tidak akan pernah hilang dari bumi Indonesia ya! Ada dan terus ada lagi. Dan rupanya anggota DPR memiliki peluang yang begitu besar untuk korupsi. Makanya tidak heran, betapa banyak orang-orang yang begitu kebelet pengin jadi penghuni gedung senayan itu. Menurut berita. latar belakang caleg sekarang begitu sangat beragam. Ada mantan aktivis, mantan preman (atau preman), pengusaha, kontraktor, dosen (mantan dosen), hingga tukang kuli bahkan ada yang berprofesi sebagai tukang cuci motor.


Di Indonesia, untuk menjadi caleg memang tidak ada ketentuan yang jelas. Siapa pun bisa nyaleg, asal dicalonkan atau mencalonkan lewat partai. Tak peduli bagaimana akhlak atau track record-nya. Bahkan ada partai yang memasang iklan di media massa pada saat pencalegan.



Continue Reading...

8 February 2009

Seorang Achjar Chalil

Alhamdulillah, mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan rasa bahagia bertemu dengan sosok yang satu ini. Achjar Chalil, seorang tokoh yang menekankan kesederhanaan dan bijaksana dalam setiap tutur kata dan sikapnya. Pria yang telah menginjak usia senja dan memiliki cucu itu seorang guru di SMK 56 Jakarta, sekaligus Ketua Umum AGUPENA Pusat 2006-2011.

Saat berdiskusi dengan beliau, ada semacam rasa kagum yang menyelinap karena kapasitas intelektual dan cara berbicaranya yang lugas dan khas. Dalam setiap pembicaraan atau obrolan tidak ada nuansa menggurui atau terkesan ingin menang sendiri. Orangnya begitu demokratis dan selalu menekankan untuk berfikir 'multi dimensi.'

Pria kelahiran Aceh ini rupanya menguasai beberapa bahasa daerah, mulai bahasa Jawa, Sunda, Betawi dan tentu saja bahasa Aceh sendiri. Menyimak kisah hidup dan pengalamannya, akan membuat kita geleng-geleng kepala. Bayangkan, dalam rangka melakukan penyamaran, saat beliau menjadi Deputi Menkop, dia rela hidup dengan nelayan dan makan alakadarnya. Itulah kisah menarik yang sempat terekam dari cerita beliau. Hikmah yang dapat dipetik adalah, ketika kita menjalani suatu tugas atau amanah, maka berbagai resiko harus dilalui dengan enjoy dan penuh semangat. Sesulit apapun.

Beliau juga termasuk bapak guru yang hobi naik motor gede. Bahkan hampir setiap hari, motor kesayangannya itu tidak pernah jauh darinya. Konon, hampir setiap kota besar di Indonesia pernah dikunjungi dengan naik motor. Dua bulan yang lalu, saat liburan sekolah beliau melakukan touring naik sepeda motornya sampai Kalimantan. Benar-benar luar biasa!

Kalimat yang sering diungkapkan adalah bahwa kita bukan siapa-siapa, tapi hamba Allah semata. Kesederhanaan, kebersahajaan dan ketawadhuan begitu lekat dengan sosok yang satu ini. Akhirnya, kebersamaan dalam satu malam dan satu hari dengan beliau telah memberikan hikmah berharga bagi saya dalam meniti kehidupan di dunia yang fana ini.

Continue Reading...

4 February 2009

AGUPENA Jawa Tengah

Organisasi profesi guru di Jawa Tengah kembali bertambah, dengan lahirnya AGUPENA (Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia) Wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kelahiran organisasi yang menegaskan dirinya sebagai organisasi independen dan nonpartisan ini dibentuk oleh 29 guru penulis di Jawa Tengah.

Kriteria guru penulis yang dimaksud meliputi, satu, guru yang menang/finalis sayembara buku bacaan Pusbuk Depsiknas. Dua, guru yang menerbitkan buku sendiri atau penerbitan umum. Tiga, guru pemenang/finalis Lomba Karya Tulis dan empat, guru yang aktif menulis di media massa.

Hadir diantara para guru penulis itu tokoh-tokoh penting di Jawa Tengah diantaranya Sawali (Kendal), Zulmasri (Pekalongan), Hery Nugroho (Semarang), Teguh Trianton (Purbalingga), Zulkarnaen Syri Lokesywara (Klaten), Sadimin, (Brebes), Tri Budiyono (Rembang), dan guru penulis lainnya.

Acara dibuka oleh Bapak Kartono, S.Ip., MM yang mewakili Kepala LPMP Jawa Tengah karena ada tugas kedinasan ke Jakarta. Dalam sambutannya beliau menyambut baik dan mendukung dengan adanya pembentukan organisasi AGUPENA, karena akan membawa dampak yang positif dalam membantu dan memfasilitasi para guru di bidang kepenulisan. Hadir Ketua Umum AGUPENA pusat bapak Achjar Chalil, S.Pd (Jakarta) yang sekaligus di akhir acara melantik para pengurus terpilih.

Akhirnya, keberadaan AGUPENA Jawa Tengah kedepan akan ditentukan oleh sejauhmana komitmen dari para pengurusnya, untuk bersama-sama mengayuh roda organisasi dengan prinsip kolektivitas, kebersamaan, saling membantu dan mendukung satu sama lain. Semoga!
Continue Reading...
 

Blogroll

Site Info

PENA DENI KURNIAWAN AS'ARI Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template